Proses Kreatif Menulis Budhi Setyawan (gambaran umum)

Berikut ini tulisan saya yang berisi semacam proses kreatif secara umum sehingga menghasilkan tulisan, terutama puisi. Bisa jadi belum menjelaskan secara detail, akan tetapi dapat dikatakan semacam hal-hal pokok yang menyebabkan saya menekuni kepenulisan. Bisa jadi belum optimal juga saya melakukan penjelajahan baik dari sisi tema maupun gaya ucap/ penulisan, karena saya mengakui belum bisa menyiapkan waktu yang khusus dan fokus untuk menggarap karya sehingga menghasilkan tulisan yang bagus.

  1. Budhi Setyawan, lahir 9 Agustus 1969 di sebuah kota kecil Purworejo Jawa Tengah. Tepatnya di dusun Kalongan desa Mudalrejo Kecamatan Loano. Bapak saya bernama Soeprayitno, seorang pegawai negeri guru/kepala sekolah SD, sedangkan ibu Suyatmi seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Banyak orang mengatakan Purworejo sebagai sebuah kota pensiunan, karena kotanya sepi. Saat maghrib tiba, kebanyakan toko-toko sudah pada tutup. Kota Purworejo merupakan kota yang tenang, menawarkan kenyamanan untuk bersantai dan istirahat.
  2. Masa di daerah kelahiran (1975 – 1988): Masa kecil/TK, SD s.d. SMA di Purworejo. sebagai penggemar acara radio, terutama wayang kulit, pilihan pendengar dan sandiwara radio. Di sela-sela mendengarkan radio, sering iseng menulis corat-coret, seadanya. Peminatan saya utama dalah musik, saya membayangkan menjadi gitaris top, keren. Sangat menyukai musik rock dan jazz/pop kreatif. Mulai mengarah ke tulisan puisi pada masa SMA, tahun ‘85 – ‘88. Tulisan masih spontan dan pembelajaran puisi sekadar dari pelajaran bahasa Indonesia yang memuat beberapa puisi era Pujangga Baru sampai era ‘66 (Taufiq Ismail). Aspek persamaan bunyi atau rima melekat pada banyak penulisan puisi saya.
  3. Masa Yogya 1 (1988 – 1992): pada era kuliah D3 FE UGM, sebagai perantau di Yogya. Ketika kuliah di Yogyakarta, saya merasa seperti lahir kedua kali di sana, memberikan ’kebebasan’ leluasa dalam aktivitas. Di Yogya saya berkelana ke tempat-tempat yang menawarkan suasana alam dan menawarkan kekaguman, seperti: Parangtritis, Imogiri, sawah-sawah di Bantul, Candi Sambisari, dll; bahkan juga mengamen dengan gitar akustik dari rumah ke rumah. Saya terdorong untuk menuliskan dari apa saja gambaran atau kata-kata yang terlintas di pikiran saat itu. Dalam kondisi ekonomi seadanya, ternyata malah mendorong saya menjadi kreatif. Saya memberi istilah tersebut dengan “menahan napas”. Dan anehnya, kampus saya FE yang hanya berbatasan jalan dengan FIB UGM (dulu namanya Fakultas Sastra), tetapi saya tidak pernah terpikir untuk masuk ke perpustakaan sastra. Saya masih mengutamakan musik, dengan banyak koleksi kaset.
  4. Masa Yogya 2 (1995 – 1998): hampir sama dengan periode Yogya 1, masih suka pada hobi bermusik. Mulai membaca buku seni, psikologi, filsafat, sufistik. Tetap belum menyentuh atau membaca puisi-puisi karya para penyair di koran atau majalah.
  5. Masa kreatif 1 (1999 – 2007): makin sering bermusik di Jakarta, kemudian dengan membentuk band di kota Balikpapan. Tahun 2005 beberapa puisi dimuat koran Tribun Kaltim di Balikpapan. Karena sulit mencari teman untuk bermain musik dan faktor jarak serta kemacetan lalu-lintas di Surabaya dan Jakarta, maka mulai berkurang bermusik dan malah vakum. Saya berpikir ada yang harus saya kerjakan secara sendiri dari hobi saya, maka saya mulai lebih serius menulis. Tahun 2006 menerbitkan dua buku puisi KEPAK SAYAP JIWA dan PENYADARAN. Tahun 2007 menerbitkan SUKMA SILAM. Pada era ini mulai berkenalan dengan penyair-penyair dalam pertemuan di PDS HB Jassin TIM Jakarta dan acara sastra di beberapa tempat. Kemudian beberapa puisi mulai dimuat beberapa media massa.
  6. Masa kreatif 2 (2007 – sekarang): aktif mengirim puisi ke media, lomba, antologi bersama, dan lain-lain. Menggagas dan mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB), dan aktif berkegiatan selama 5 tahun dari 2011 – 2016. Riwayat kirim puisi ke media massa tidak mudah dalam pemuatannya, ada yang sampai 5 kali pengiriman baru dimuat, bahkan ada yang puluhan kali tidak pernah dimuat sampai sekarang. Sempat beberapa kali puisi dimuat di majalah Horison. Akan tetapi yang sangat menyemangati adalah telepon dari presiden penyair Malioboro Umbu Landu Paranggi, sekitar tahun 2010, dan diikuti dengan dimuatnya puisi-puisi saya di Bali Post. Dan kemudian di era 2012 – 2016 terbit rubrik HariPuisi di Koran Indopos dengan redaktur puisinya Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, yang beberapa kali memuat puisi saya dan sempat bertemu beberapa kali dengan penyair yang terkenal dengan bukunya O Amuk Kapak itu. Ada kesamaan atau kedekatan misi dari Umbu dan Tardji sebagai redaktur puisi, mereka memberi kesempatan kepada penulis muda/pemula yang punya arah/potensi berkembang maka diberi kesempatan dimuat di media massa yang dijaganya. Hal ini diperlukan untuk menyemangati proses kekaryaan penulis. Pada Juni 2017, saya menerbitkan buku SAJAK SAJAK SUNYI, terpaut waktu 10 tahun dari buku SUKMA SILAM tahun 2007.
  7. Proses keterpengaruhan atau gaya para penyair sebelumnya pada puisi saya bisa jadi ada. Sebagai murid sekolah era 70-an s.d. 80-an, tentu dalam bahasa Indonesia ada beberapa puisi karya Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, yang menjadi endapan di dasar ingatan, atau menghuni bawah sadar saya. Termasuk beberapa pantun. Pada perkembangan selanjutnya saya menyukai puisi-puisi karya Goenawan Mohamad, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, Shinta Febriany, Nenden Lilis Aisyiah, Gunawan Maryanto, Joko Pinurbo, Adimas Immanuel, dan beberapa puisi di media massa.
  8. Saya pernah menulis semacam acuan dasar atau tips menulis puisi beberap atahun lalu. Semacam syarat dan tips menulis puisi antara lain:
    1. Suka dengan puisi.
    2. Peka terhadap situasi atau suasana sekitar: berkaitan dengan kesiapan untuk menangkap kesan yang muncul dari lingkungan dan dapat menjadi ide/tema puisi
    3. Mulailah dengan tema dari hal-hal yang paling dekat dengan diri/kehidupan kita, sehingga ada kemudahan untuk menuliskannya.
    4. Segera mencatat beberapa kata yang terlintas dalam benak, meskipun hanya beberapa kata, sebelum hilang tertimpa oleh kesan penginderaan selanjutnya, agar dapat menjadi draft puisi (bisa di kertas kecil atau telepon genggam/ Hand Phone ketika di perjalanan).
    5. Segera mencoba menulis puisi, dengan kata yang terlintas pertama, biarkan mengalir saja.
    6. Terus dan tekun mencoba, menulis puisi dari beberapa bahan yang ada, dan membacanya kembali untuk menambah, mengurangi, mengubah kosa kata, gaya bahasa, dll.
    7. Banyak membaca, informasi, pengetahuan, ilmu apa saja: untuk pengayaan tema dan menabung perbendaharaan kata.
    8. Gunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus untuk membantu mencari kosa kata baku dan yang jarang dipakai dalam percakapan atau penulisan keseharian.
    9. Membaca puisi karya orang lain: untuk melakukan kaji-banding atau benchmark, mengukur secara relatif posisi puisi kita.
  9. Hal yang perlu dijaga adalah semangat berkarya. Bahwa menulis itu berguna, bernilai. Yang perlu dicemaskan dan mesti dibendung jangan sampai terjadi adalah munculnya perasaan bahwa tidak menulis tidak apa-apa, tidak berkarya tidak membawa masalah apa-apa dalam kehidupan. Harus diyakini oleh penggiat seni bahwa karya adalah napas. Napasnya penulis adalah hasil tulisan. Napas penyair adalah puisi.

Jakarta, 29 Agustus 2017

Budhi Setyawan (Buset)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

3 Balasan ke Proses Kreatif Menulis Budhi Setyawan (gambaran umum)

  1. Sang Amatir berkata:

    Karya adalah nafas….
    Keren bang…

  2. cici berkata:

    Luar biasa mantab om ….

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih mba Cici. Cuma hal sederhana dan untuk menyemangati diri yang sering malas ini. He3. Mungkin belum sampai tahap menginspirasi. Ya untuk hiburan biar hidup rileks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s