Sunyi Sebagai Ruang Kontemplasi

Sunyi Sebagai Ruang Kontemplasi*

Telaah singkat buku puisi Sajak Sajak Sunyi karya Budhi Setyawan

oleh: Dewandaru Ibrahim Senjahaji

*Disampaikan dalam acara diskusi buku Sajak Sajak Sunyi di Pondok Pena Pesma An Najah Purwokerto, Minggu, 19 November 2017

Ketika melihat judul “Sajak-Sajak Sunyi”, yang terlukis dari kata sunyi dalam imajinasi saya adalah sesuatu yang menyedihkan dan cengeng. Saya membayangkan seseorang berada dalam keadaan yang gelap, dingin, dan tidak ada hal-hal yang memberi kesan kehidupan. Namun, menjadi berbeda ketika saya melihat gambar pada cover-nya. Terdapat potret lain dari kata “sunyi” yang sebelumnya saya su’udzoni. Hal tersebut membuat saya berpikir ulang terhadap makna dari kata “sunyi” tersebut.

“Sunyi”, mungkin bagi sebagian orang merupakan kata yang wajar, akan tetapi, bagi saya, kata “sunyi” sedikit meneror. Saya jadi membayangkan yang tidak-tidak, seperti kesebatangkaraan dan segala yang pahit. Meskipun, pemaknaan sedemikian muncul sebab pikiran dangkal saya menggambarkan puisi dengan berbagai bumbu kecengengannya. Oleh sebab itu, saya memahami “sunyi” sebagai kesendirian, sekalipun bisa dinikmati juga keadaan semacam itu.

Pada saat saya berpikir ulang tentang makna kata “sunyi”, saya teringat dengan judul lagu atau puisi Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), yaitu “Jalan Sunyi”. Saya ingat Cak Nun pernah mengatakan; “hidup itu juga membutuhkan sunyi, seperti halnya musik saja membutuhkan sunyi, dan sunyi itu yang membuatnya indah”. Begitu juga dengan orang bicara, ketika orang berbicara juga membutuhkan sepersekian detik untuk sunyi, jika tidak, mungkin omongan seseorang akan terdengar seperti suara buffer. Dari situlah saya mulai berpikir dan mencoba meraba kembali makna sajak-sajak “sunyi”.

Setelah mengintip buku kumpulan puisi “Sajak-Sajak Sunyi”, saya melihat beberapa puisi yang mengandung kata “sunyi” dan menemukan sebuah gambaran tentang arti “sunyi”. “Sunyi” secara bahasa berarti tidak ada bunyi atau suara apa pun, hening, lenggang, sepi sekali. Oleh karenanya, saya memaknai “sunyi” sebagai sikap dan ruang. Pertama, “sunyi” sebagai sebuah sikap. Sunyi atau kesunyian menjadi sebuah sikap yang dilakukan seseorang seperti tidak bersuara/ bergerak terhadap suatu peristiwa atau kenyataan tertentu, namun, bukan berarti ia diam. Kedua, “sunyi” sebagai sebuah dimensi atau ruang. Saya memaknai “sunyi” atau kesunyian pada puisi-puisi Budi Setyawan sebagai sebuah ruang/ dimensi/ posisi di mana seseorang dapat melakukan suatu aktivitas yang lebih optimal. Saya menyebutnya dengan sunyi sebagai sebuah ruang kontemplasi yang menumbuhkan kesadaran kosmis atau kesadaran transenden.

Ada beberapa puisi Budhi Setyawan yang saya tengarai bahwa “sunyi” itu bukan merupakan adjectiva, melainkan sunyi adalah sebuah verba. Sunyi menjadi suatu aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang, akan tetapi, bukan berarti ia tidak melakukan apa pun. Sunyi dalam konteks ini merupakan sikap di mana seseorang tidak melakukan sesuatu yang sewajarnya ia lakukan, untuk mengambil manfaat dari tidak melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan tersebut. Mungkin itu lebih mirip dengan seseorang yang memilih berpuasa meski ia sebenarnya bisa makan banyak, ia berpuasa untuk menjaga kesehatannya dan memperkuat sel-sel tubuhnya. Lihat puisi yang berjudul “Digilir Sepi” berikut;

Digilir sepi

Kita adalah para pejalan
Yang terus mendaki
Makna di tingkap kata-kata
Menyusur puncak-puncak bahasa
Yang menderetkan nada
Selalu menjelma lagu baru
Dan menarik tafsir untuk diburu

Segala keriuhan cuma pelipur
Kesementaraan bagi batin kita
Yang risau menunggu
Kepastian bertemu
Ayat-ayat sepi diri

Tak ada nyanyi abadi
Akan berhenti pada nada dasar
Kepasrahan yang sunyi
Bersemayam di lembah sadar

Seusai sekumpulan ingatan waktu
Tanak menandai deru
Kita pun rebah
Hingga tinggal sepah

Bekasi, 2017

Pada bait ketiga baris ketiga ada kalimat /Kepasrahan yang sunyi/. Kepasrahan adalah sebuah kondisi di mana seseorang setelah berusaha, menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan dan orang tersebut secara otomatis harus rela dengan segala keputusan Tuhan. Kata “sunyi” pada kalimat tersebut merupakan sikap yang dipilih oleh “aku-lirik” untuk tidak memrotes atau menggugat apa yang telah menjadi kehendak Tuhan.
Selanjutnya, cermati pada puisi yang berjudul “Setelah Itu”:

Setelah Itu

Ada arus yang keras dan menderas
Menembusi ruas-ruas waktu
Hingga semua napas menjadi deru

Bayang kegembiraan bangkit berdiri
Lalu menyanyi dan menari
Mengisi derap di pembuluh hari

Namun keriap gerak hanya sesaat lewat
Setelah itu sunyi
Setelah itu sunyi

Jakarta, 2014

Pada puisi di atas saya mengilustrasikan bahwa ada keadaan yang merangsang gerak seseorang, yang mana itu sangat kuat, /Ada arus yang keras dan menderas/ Menembusi ruas-ruas waktu/ Hingga semua napas menjadi deru/. Kemudian orang tersebut terangsang dan kemudian bergerak (melakukan suatu pekerjaan), /Bayang kegembiraan bangkit berdiri/ Lalu menyanyi dan menari/ Mengisi derap di pembuluh hari/. Lalu, setelah melakukan berbagai gerak, ada kesadaran yang timbul terhadap segala gerak yang telah dilakukan, /Namun keriap gerak hanya sesaat lewat/, dan pada akhirnya, orang tersebut merasa apa yang telah ia dapatkan dari geraknya itu hanya sesaat, lalu kemudian memilih sunyi, setelah itu sunyi/ setelah itu sunyi/.

Sembahyang Sunyi

Malam masih mendaki dan hampir sampai puncak senyap
Saat suara suara kembali ke sarangnya yang pengap
Dan kasih udara ingin terdengar lagi sari luhur getarnya
Seperti hujan pertama pada kelahiran anak manusia

Dalam sepi malam, kesendirian membangunkan rimbun tanya
Kecemasan batin di riuh kekinian, dalam arus pusaran usia
Yang merindukan kelegaan musim dengan tempias basahnya hujan
Serta dada yang mekar terlepas dari kejaran beragam keinginan

Di telinga langit gema ayat-ayat terasa makin purba
Menikam sunyi gigil sukmaku, tak terbayang nanti bila berjumpa
Aku pun bersembahyang cipta dalam semesta gaib jantungmu
Dengan debar nadi yang mencari resonansi pada irama degupmu

Purworejo, 2014

Pada puisi ini, yang saya tangkap dari bait /Malam masih mendaki dan hampir sampai puncak senyap/ Saat suara suara kembali ke sarangnya yang pengap/ adalah gambaran suasana malam yang sepi di mana tidak ada aktivitas-aktivitas manusia, yang mana hal itu memperjelas kehadiran alam yang sebelumnya tidak terasakan oleh penyair, /Dan kasih udara ingin terdengar lagi sari luhur getarnya/ Seperti hujan pertama pada kelahiran anak manusia/. Kemudian, dalam suasana seperti itu muncullah berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi diri dan pelepasan terhadap hal-hal keduniawian. Hal tersebut dijelaskan dalam bait /Dalam sepi malam, kesendirian membangunkan rimbun tanya/ Kecemasan batin di riuh kekinian, dalam arus pusaran usia/ Yang merindukan kelegaan musim dengan tempias basahnya hujan/ Serta dada yang mekar terlepas dari kejaran beragam keinginan/.

Selanjutnya, “aku-lirik” semakin merasakan pengetahuan-pengetahuannya yang kemudian memunculkan kesadaran kosmis dalam dirinya. Hal itu ditegaskan dalam bait: /Di telinga langit gema ayat-ayat terasa makin purba/ Menikam sunyi gigil sukmaku, tak terbayang nanti bila berjumpa/ Aku pun bersembahyang cipta dalam semesta gaib jantungmu/Dengan debar nadi yang mencari resonansi pada irama degupmu/.
“Sunyi” sebagai ruang kontemplasi tentu akan menumbuhkan sesuatu, di antaranya adalah kesadaran. Dari pembacaan saya terhadap beberapa puisi Budhi Setyawan (Buset), saya menemukan sebuah kesadaran, yaitu kesadaran kosmis atau kesadaran transenden, yang pada akhirnya bisa membantu saya dalam mengidentifikasi pola perpuisian Buset yaitu; “sunyi-kontemplasi-kesadaran transendental”.

Kadang-kadang, penyair mempunyai struktur atau pola yang sama dari puisi-puisinya. Seperti pada puisi “Sembahyang sunyi”, pada puisi “Menafsir Sepimu”. Perhatikan puisi berikut:

Menafsir Sepimu

Ada sisa seranting senja
Tersangkut di jendela, ketika jemari malam
Mulai mengatupkan pintu hari
Dan aku seperti terhisap dalam lorong
Misteri, segala atraksi dan tarian
Perlahan mengendap ke bawah tapis napas
Menjadi artefak yang tiba-tiba
Menjelma prasasti muram
Mempertanyakan tentang kisah fana

Lalu tangan malam meraba
Menjamahi skenario langit yang terhampar
Jangkrik mengirim salam kepada belalang
Dan serangga malam yang lain,
Untuk mengubah lantunan kasidah
Menyambut kepak takzim alam

Khayal-khayal gaib bangkit
Menerobos gigil
Membangun sepiku

Di kejauhan laut pasang
Memercik riak roman ke bulan
Mengombak kerinduan
Dan gunung mengirimkan anginnya
Mendesirkan halimun
Rasa piatu yang purba

Hingga pada kuntum dini hari
Yang hampir mekar, segugusan kata
Menguar menggugatkan gelebah,
Yang tak sampai sampai
Kureka dalam anyam angan:
Tentang sepimu
Yang tak mengenal awal dan akhir

Pada bibir fajar
Kesepianku tergugup mengeja alif
Yang senantiasa berdiri
Menegakkan wirid di lidah, jantung,
Kalbu, tangan, kaki semesta
Setia menempuh rahasia kalam
Mengatasi musim musim
Yang gawal membaca
Hakikat dan tanda

Jakarta, 2014

Bisa kita lihat pada bait pertama dan kedua berbicara tentang kesunyian, kemudian bait ketiga, keempat dan kelima kontemplasi dan terkhir buah dari kontemplasi, yaitu kesadaran kosmis atau transendental.

Seperti bait yang berbunyi: “…/ Tentang sepimu/Yang tak mengenal awal dan akhir/ …/. Saya memahami “sepi” di sini dapat dimaknai dengan kesendirian (kesendirianmu) atau bisa juga sepi dimaknai sebagai ketidaktahuan “aku-lirik”. Akan tetapi, pada lir4ik /yang tak mengenal awal dan akhir/ bagi saya mengindikasikan sesuatu yang tak berawal dan yang tak berakhir; Tuhan.

Pada bibir fajar/ Kesepianku tergugup mengeja alif/ Yang senantiasa berdiri/ Menegakkan/ wirid di lidah, jantung,/ Kalbu, tangan, kaki semesta/ Setia menempuh rahasia kalam/ Mengatasi musim musim/ Yang gawal membaca/ Hakikat dan tanda/. Pada kalimat /Setia menempuh rahasia kalam/ Mengatasi musim musim/, saya melihat adanya kesadaran “aku-lirik” untuk terus menerus menggali makna dari ayat-ayat Tuhan sebagai bekal menjalani hidup. Akan tetapi, kalimat /Mengatasi musim musim/ dilanjutkan dengan kalimat /Yang gawal membaca/ Hakikat dan tanda/, saya menengarai bahwa yang dimaksud “aku-lirik” tidak hanya ayat-ayat atau kalam yang tertulis. Seperti yang dikatakan Syeh Nursamad Kamba dan Sudjiwo Tedjo atau ulama lainnya bahwa, ayat-ayat Tuhan tidak hanya yang tertulis namun ada yang tidak tertulis.

Buah sunyi

Teruslah berjalan, masuk ke gua telinga
Sampai masa di pucuk malam
Sampai segala bunyi lenyap
Dan yang tinggal hanya senyap

Tatap aku dalam pejam matamu
Lalu petiklah aku
Petiklah
Yang terlekap di ceruk napasmu

Kupas, kupaslah aku
Sampai habis hijabku
Sampai purna telanjangku
Hingga di kedalamannya yang pasti
Akan kautemui dirimu
Sendiri
Piatu, termangu

Bekasi, 2014

Selanjutnya, pada puisi yang berjudul “Buah Sunyi” tersebut, seperti dua puisi yang saya sebut sebelumnya, pada bait pertama puisi tersebut berbicara mengenai proses untuk memasuki kesunyian. Kemudian bait kedua dan tiga baris pertama bait ketiga berbicara tentang proses kontemplasi. Selanjutnya baris ke empat hingga usai bait ketiga berisi tentang muatan kesadaran terhadap eksistensi Tuhan dan dirinya. Dari pembacaan puisi tersebut saya memaknai bahwa puisi tersebut merupakan representasi dari dalil “barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhan”. Yang menarik dari puisi tersebut adalah adanya sebuah pemikiran dimana “Barang siapa mengenal Tuhan, maka ia akan mengenal dirinya”. Hal tersebut ditegaskan oleh kalimat “Kupas, kupaslah aku/ Sampai habis hijabku/ Sampai purna telanjangku/ Hingga di kedalamannya yang pasti/ Akan kautemui dirimu/ Sendiri/ Piatu, termangu/”.

Setelah membaca “Sajak Sajak Sunyi” karya Buset, saya menyimpulkan bahwa sunyi adalah sebuah sikap dan ruang kontemplatif yang efektif untuk menyelesaikan keruwetan-keruwetan yang ada. Sunyi dapat menjadi sebuah ruang untuk memetik hikmah-hikmah yang mungkin tidak terlihat. Seperti kata Sabrang Mowo Damar Panoeloeh bahwa; “hanya telaga yang tenang yang dapat mendengar tetesan air”.

Ketika dihadapkan dengan sesuatu atau objek, entah itu berupa benda atau permasalahan, acapkali seseorang terjebak atau terkelabui oleh pandangannya. Hal semacam itu dapat disebabkan karena riuhnya suasana baik yang sifatnya katon maupun yang tidak katon. Untuk dapat memotret suatu peristiwa dengan jelas, tentu membutuhkan angel yang pas. Saya meminjam perumpamaan yang dipakai oleh Habib Anis Soleh Baasyin yang mengatakan bahwa; “ketika berada tepat di air terjun kita tidak dapat melihat keindahan air terjun, maka kita perlu mundur atau memperluas jarak pandang, dengan begitu kita akan dapat melihat dan menikmati keindahan air terjun”. Cara untuk mendapatkan eagleview dapat dilakukan dengan memasuki dimensi “sunyi”. “Sunyi” sebagai ruang kontemplasi memang dapat menjadi sebuah alternatif untuk menghadapi keadaan, sekaligus sebuah jawaban terhadap yang mungkin tidak dapat diselesaikan dengan sebuah aksi spontan yang mempunyai resiko fatal.

Membaca buku puisi “Sajak Sajak Sunyi”, saya teringat dengan kisah-kisah epic baik itu dari jagad pewayangan maupun dari potongan-potongan legenda bahwa seorang lakon ketika menemui kejumudan, ia akan mendekat kepada kesunyian. Tidak hanya lakon protagonis, tapi lakon antagonis pun ketika menghadapi kesulitan akan melakukan samadi (memasuki kesunyian). Kesunyian memang sering digunakan sebagai alternatif oleh lakon-lakon dalam cerita-cerita besar ketika kesaktian-kesaktian mereka lumpuh. Bahkan kesunyian juga yang menjadi saksi pertemuan Kanjeng Nabi dengan Malaikat Jibril di Gua Hira. Kesunyian pula yang menyelamatkan beberapa pemuda dalam gua dalam kisah Al-Kahfi. Dengan demikiabn, “Sajak Sajak Sunyi” adalah sebuah hasil samadi seorang Buset terhadap keriuhan yang ada di sekitarnya.

Sekian.

Dewandaru Ibrahim Senjahaji adalah penyair, masih kuliah di IAIN Purwokerto, dan saat ini tinggal di Purwokerto.

 

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s